Ads 468x60px

.

Pages

Subscribe:

Labels

Tampilkan postingan dengan label Seputar Paroki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seputar Paroki. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Mei 2012

KITAB HUKUM KANONIK : TUGAS GEREJA MENGAJAR


BUKU III
TUGAS GEREJA MENGAJAR
(Kan. 747 – 833)

Berikut adalah penjelasan Kitab Hukum Gereja terkait dengan pembahasan mengenai Tugas Gereja Mengajar:
  
1.1.        Pengantar
Ajaran merupakan pusat peranan dan misi Gereja:

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."

Setiap orang dalam Gereja berpartisipasi dalam “fungsi Propetis (kenabian)” untuk mewartakan Kabar Gembira Yesus Kristus ini (Kan. 204, 211) dan saling menolong satu sama lain untuk menjadi murid-muridNya. Karena itu kanon-kanon dari buku III ini dihubungkan dengan seluruh umat kristen karena semua harus terlibat di dalamnya.
            Lima judul dalam buku III ini berhubungan dengan 1) Pelayan Sabda Allah, termasuk pewartaan sabda Allah dan pendidikan kateketik 2) kegiatan misi Gereja, 3) pendidikan Katolik termasuk sekolah-sekolah, universitas-universitas, dan lembaga pendidikan tinggi Katolik lainnya, universitas dan fakultas kegerejaan, 4) alat-alat  komunikasi sosial dan 5) pengakuan iman. Tema besar dai buku ini adalah tugas tanggung jawab berbagai macam aspek dari seluruh misi pengajaran.
Meskipun fungsi mengajar ditempatkan tersendiri dalam buku III, namun tidak terpisah dari tugas menguduskan dan tugas pastoral (pengembalaan). Disini hal itu dipisahkan karena demi kejelasan pembahasannya. Tetapi dalam hidup Gereja mereka harus bekerja sama dalam harmoni, seperti suara dalam koor. 


1.2.        Hak dan Kewajiban Gereja dalah untuk Mewartakan Injil

Kan 747 § 1: “Kepada Gereja dipercayakan oleh Kristus Tuhan khazanah iman agar Gereja dengan bantuan Roh Kudus menjaga tanpa cela kebenaran yang diwahyukan, menyelidikinya secara lebih mendalam, mewartakan dan menjelaskannya dengan setia; Gereja mempunyai tugas dan hak asli untuk mewartakan Injil kepada segala bangsa, juga dengan alat-alat komunikasi sosial yang dimiliki Gereja sendiri, tanpa tergantung pada kekuasaan insani mana pun juga”.

§ 2: “Gereja berwenang untuk selalu dan di mana-mana memaklumkan prinsip-prinsip moral, juga yang menyangkut tata- kemasyarakatan, dan untuk membawa suatu penilaian tentang segala hal-ikhwal insani, sejauh hak-hak asasi manusia atau keselamatan jiwa- jiwa menuntutnya.”

Gereja ada untuk mewartakan Injil sesuai dengan perintah Yesus Kristus. Yesus berpesan "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” (Mrk 16:15).  Tugas mengajar sebagaimana tertulis dalam kanon 747 ini adalah hak dan kewajiban semua orang kristen. Kanon ini mengemakan kembali KV II yakni LG 12, DV 7 -10, DH 13. yang merupakan latar belakang kanon 747 § 1. Seluruh Gereja, umat Allah adalah subjek yang aktif dalam tugas mengajar ini. Bukan hanya tugas kaum tertahbis dan teolog-teolog profesional, tetapi tugas seluruh umat beriman. Untuk melakukan tugas ini Gereja disertai dan dibimbing terus menerus oleh Roh Kudus. Seluruh Gereja secara dinamis, menjaga kebenaran pewahyuan Allah, menyelidikinya, dan dengan penuh iman mewartakan dan menjelaskannya. Atas perintah Tuhan, Gereja menyatakan sebagai haknya untuk mewartakan Injil kepada segala bangsa tanpa tergantung pada kekuasan manusiawi manapun.
Kan 747 § 2 mengkhususkan pengajaran Gereja dalam soal moral dan tata kemasyarakatan. Hal ini akan dimengerti dalam DH 14 dan GS 76. memang misi utama Gereja adalah dalam soal-soal religius, bukan dalam bidang politik, sosial, ekonomi dan kemasyarakatan. Tetapi nilai-nilai religius dapat menguatkan komunitas manusia (GS 42). Gereja juga menyuarakan prinsip-prinsip moral, bahkan dalam isu-isu sosial. Gereja juga dapat menjatuhkan penilaian jika hak-hak asasi dasar dan keselamatan jiwa menuntutnya (GS 76). Dalam Ajaran Sosial Gereja, Gereka Katolik banyak bersuara untuk kaum buruh yang tertindas, kaum yang terpingirkan dan mengalami ketidak-adilan, upah yang minim; kritik atas kapitalisme; soal-soal KB buatan; dsb. Ini semua adalah ajaran Gereja dalam bidang moral dan tata kemasyarakatan.

1.3.        Hak dan kewajiban untuk mencari kebenaran dan memeluknya.

Kan 748 § 1: “Semua orang wajib mencari kebenaran dalam hal- hal yang menyangkut Allah dan Gereja-Nya, dan berdasarkan hukum ilahi mereka wajib dan berhak memeluk dan memelihara kebenaran yang mereka kenal.”

§ 2: Tak seorang pun boleh memaksa orang untuk memeluk iman katolik melawan hati nuraninya”

Gereja menuntut setiap pribadi menggunakan penilaian dan kebebasannya untuk membuat keputusan. Mereka bebas untuk mendasarkan tindaka-tindakannya pada kesadaran mereka (keputusan hati nurani) dan tidak ditekan baik dari dalam maupun dari luar.
Mereka memiliki kewajiban moral untuk mencari kebenaran, khususnya kebenaran iman tentang Tuhan dan GerejaNya. Kalau kebenaran itu diketahui mereka wajib memeluk kebenaran itu dan menjadi pedoman yang mengatur hidup mereka. Sehubungan dengan hal ini, dengan jelas dikatakan bahwa tak seorangpun boleh dipaksa untuk memeluk iman katolik atau masalah iman lainnya, yang bertentangan dengan hati nuraninya. Kanon ini menyurakan DH 1-3 yang merupakan dasarnya. Paragraf pertama menyatakan dua kewajiban yang berbeda: 1) mencari kebenaran tentang Allah dan Gereja-Nya; 2) mengakui kebenaran itu, berpegang teguh padanya dan hidup berdasarkan kebenaran itu. Keduanya merupakan hak setiap orang.
Secara prinsipil kewajiban dan kebebasan untuk mencari kebenaran-kebenaran iman adalah sesuatu yang mencakup hidup gereja, karena hal itu tidak hanya didasarkan pada martabat pribadi manusia, tetapi juga pada kebebasan hakiki tindakan iman. “tindakan iman adalah kehendak alami” (DH 10).
Paragraf kedua mengajarkan batas luar dari kekebasan religius yakni tak ada paksaan. Bukan hanya bujukan dari dalam yang dihindari, tetapi Gereja harus menunjukkan dirinya sendiri sebagai komunitas yang menarik yang di dalamnya kebebasan beragama dihargai. Secara tegas dihindari pemaksaan terhadap seseorang, atau membujuk mereka dengan cara tak pantas memikat mereka masuk dalam Gereja (Katolik). Seluruh orang kristen harus sadar bahwa hak untuk kebebasan beragama dimurnikan sehingga tak seorangpun dikeluarkan dari Gereja karena gangguan yang merugikan ini.

1.4.        Infalibilitas Paus dan Kolegial Para Uskup

Kan 749 § 1: “Berdasarkan jabatannya Paus memiliki ketidak-dapat-sesatan (infallibilitas) dalam Magisterium, apabila selaku Gembala dan Pengajar tertinggi seluruh kaum beriman, yang bertugas untuk meneguhkan iman saudara-saudaranya, memaklumkan secara definitif bahwa suatu ajaran di bidang iman atau di bidang moral harus diterima.”

§ 2: “Ketidak-dapat-sesatan dalam Magisterium dimiliki pula oleh Kolegium para Uskup, apabila para Uskup, tergabung dalam Konsili Ekumenis, melaksanakan tugas mengajar dan selaku pengajar dan hakim iman dan moral, menetapkan bagi seluruh Gereja bahwa suatu ajaran di bidang iman atau moral harus diterima secara definitif; ataupun apabila mereka, tersebar di seluruh dunia, namun memelihara ikatan persekutuan antara mereka dan dengan pengganti Petrus, mengajarkan secara otentik, bersama dengan Uskup Roma itu, sesuatu dari iman atau dari moral dan mereka seia-sekata bahwa ajaran itu harus diterima secara definitif.”

§ 3: “Tiada satu ajaran pun dianggap sudah ditetapkan secara tak-dapat-sesat, kecuali hal itu nyata dengan pasti.”

Infalibilitas (ketidak-dapat-sesatan) merupakan ajaran paus dan para uskup dalam kesatuan dengan paus. Infalibilitas ini berkaitan dengan Gereja sendiri yang adalah tubuh mistik Kristus. Kristus senantiasa hadir melalui Roh Kudus dan membimbing Gereja dan para pemimpinnya (I Yoh 2:20, 27; LG 12). Namun ajaran infalibilitas sangat jarang dipakai oleh paus, maupun para uskup dalam kesatuan dengan paus.
Ajaran paus dan para uskup seperti ensiklik, eksortasi, surat, amanat, homili, tidak termasuk ajaran infalibilitas. Paus jarang sekali menetapkan ajaran infalibilitas sepanjang sejarahnya. Jika kolegium para uskup mengajar secara khusus seperti yang dilakukan dalam Konsili Vatikan itu tidak dilakukan dalam kuasa infalibilitas.
Ajaran infalibilitas sudah lama berakar dalam sejarah Gereja. Tetapi kesungguhan artikulasinya baru pada akhir pengantian Konsili Vatikan pertama (1870). Kanon ini harus ditafsirkan berdasarkan LG 25. Jika kolegium para uskup hendak menyatakan ajaran infalibilitas baik di dalam atau di luar konsili ekumenis, mereka biasanya menyatakannya dengan tegas dan eksplisit. Ajaran itu harus diakui dan dipegang oleh seluruh Gereja.
Paragraf ketiga barang kali sangat penting secara kanonik. Kecuali jika suatu ajaran secara jelas dibangun sebagai ajaran infalibilitas,  

1.5.        Perkara-perkara Iman dan Perkara-perkara yang Dihubungankan dengan Iman

Kan 750 §1: “Dengan sikap iman ilahi dan katolik harus diimani semuanya yang terkandung dalam sabda Allah, yang ditulis atau yang ditradisikan, yaitu dalam khazanah iman yang satu yang dipercayakan kepada Gereja, dan sekaligus sebagai yang diwahyukan Allah dikemukakan entah oleh Magisterium Gereja secara meriah, entah oleh Magisterium Gereja secara biasa dan umum; adapun khazanah iman itu menjadi nyata dari kesepakatan orang-orang beriman kristiani di bawah bimbingan Magisterium yang suci; maka semua harus menghindari ajaran apapun yang bertentangan dengan itu”.

§ 2: “Dengan teguh harus juga dipeluk dan dipertahankan semua dan setiap hal yang menyangkut ajaran iman atau moral yang dikemukakan secara definitif oleh Magisterium Gereja, yaitu hal-hal yang dituntut untuk menjaga tanpa cela dan menerangkan dengan setia khazanah iman tersebut. Maka dari itu adalah melawan ajaran Gereja katolik orang yang menolak proposisi yang harus dipegang secara definitif tersebut.”

Di antara semua yang diajarkan oleh Gereja, apa yang harus dipercayai? Jawabannya adalah pewahyuan Allah, baik yang tertulis dalam Kitab Suci maupun dalam Tradisi. Iman dikatakan “ilahi” karena ia merupakan jawaban terhadap pewahyuan Allah, “katolik” karena ia dimaksudkan oleh Gereja sebagai pewahyuan ilahi. Hal ini telah diajarkan dalam LG 25, DV 10.
Suatu yang penting dalam paragraf ini adalah kata “harus diimani.” Seluruh umat beriman kristiani adalah pelaksana ajaran yang berasal dari magisterium biasa dan universal. Rasa iman (sense of faith) umat Allah dibangkitkan dan digemakan oleh Roh kebenaran, agar dapat menerima Sabda Allah dan mengimaninya (LG 12). Roh Kudus memprakarsai interrelasi antara Sabda Suci Allah dan iman umat Allah yang kudus (DV 10). Paragraf ini juga mengingatkan setiap orang percaya untuk menghindari semua ajaran yang bertentangan dengan semua isi ajaran iman.
Paragraf kedua dari kanon ini mengacu pada kebenaran yang tidak berasal dari wahyu tetapi berhubungan secara historis dan logis dengan kebenaran-kebenaran yang diwahyukan. Kebenaran-kebenaran yang dimaksud adalah kebenaran-kebenaran yang secara definitif ditetapkan oleh kuasa mengajar Gereja (magisterium). Ajaran-ajaran yang dikemukakan secara definitif oleh magisterium ini harus dipeluk dan dipertahankan (kan 833, LG 25).
Ajaran-ajaran yang dikemukakan secara definitif ditetapkan oleh paus atau oleh konsili ekumenis, atau oleh ajaran infalibilitas dari magisterium biasa dan universal yang secara definitif harus dipeluk. (LG 25).
Pribadi yang sejara tegas menolak ajaran-ajaran semacam ini dan tidak menarik kembali penolakannya setelah diingatkan oleh paus dan pejabata Gereja biasa akan dikenai hukuman sesuai dengan kan 1371 § 1.


1.6.        Bidaah (heresy), Kemurtadan (Apostasia), dan Skisma (schisma)

Kan 751: Yang disebut bidaah (heresis) ialah menyangkal atau meragukan dengan membandel suatu kebenaran yang harus diimani dengan sikap iman ilahi dan katolik sesudah penerimaan sakramen baptis; kemurtadan (apostasia) ialah menyangkal iman kristiani secara menyeluruh; skisma (schisma) ialah menolak ketaklukan kepada Paus atau persekutuan dengan anggota-anggota Gereja yang takluk kepadanya.

Kanon ini merupakan definisi dari bidaah, kemurtadan, dam skisma. Konteks Konsili Vatikan adalah reformasi protestan yang menyebabkan kekacauan dan perpecahan dalam Gereja pada abad awal abad 19. Konteks sekarang adalah mencari kesatuan kembali yang disebut gerakan ekumenis. Konsep bidaah, kemurtadan, skisma harus dilihat berdasarkan cara pandang kesatuan (komunio) itu. Beberapa unsur dari hal ini diuraikan secara detail dalam LG 14 dan UR 3. Orang-orang kristen disatukan lebih baik lewat faktor karya cinta kasih (karitas), dari pada pengakuan ajaran bersama. Dialog yang lebih menyatukan adalah kerja sama dalam karya amal dari pada dialog tentang ajaran. Sebab Gereja-gereja Kristen terpecah karena perbedaan ajaran.
Sesungguhnya istilah bidaah, kemurtadan dan skisma bukan berarti orang yang lahir dan dibabtis di luar persekutuan Gereja katolik. Rumusan itu hanya ditujukan untuk orang-orang katolik, yang dibabtis dalam Gereja Katolik dan diterima di dalamnya (UR 3; ED 19-20) tetapi menolak apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik.
Bidaah, kemurtadan, dan skisma dipandang sebagai kubur penyangkalan melawan kebenaran yang diwahyukan dan kesatuan Gereja, secara khusus dalam Gereja yang serius menekankan ajaran dan kesatuan seperti Gereja Katolik. Karena akibat yang mungkin dari tindakan-tindakan ini sangat drastis. Tetapi istilah-istilah bidaah, murtad, skisma harus dimengerti dengan benar dan diterapkan secara sempit. 
Bidaah, kemurtadan dan skisma adalah orang yang melawan atau menyerang ajaran Gereja secara sadar dan sengaja. Jika unsur-unsur serangan ini dibenarkan, maka unsur-unsur ini dapat membuat orang kehilangan tugas mengajar dalam Gereja (c,194 $1,2), dikeluarkan dari suatu komunitas religius (c,694$ 1,1), dibebaskan dari tugas-tugas suci (c, 1041$2) , dikeluarkan dari status klerikal (c 1364, $2), diekskomunikasi (c 1364$1), dan bahkan tidak dapat dikuburkan dalam ritus kematian gerejawi (c 1184, $ 1,1).
Bidaah adalah suatu penyangkalan dan keraguan terhadap suatu kebenaran yang harus diimani dengan iman ilahi dan katolik. Tetapi kejahatan bidaah hanya diwujudkan pada kebenaran dalam arti sempit yakni menyangkal kebenaran-kebenaran iman yang diwahyukan seperti inkarnasi dan kebangkitan Tuhan (bdk. 750 §1), bukan kebenaran-kebenaran moral seperti anti KB buatan, dsb (kan 750 § 2).
Penyangkalan dan penyangsian yang sesungguhnya yang mendapat hukuman adalah penyangkalan yang diambil dengan penuh pengetahuan, kehendak bebas dan kesadaran bahwa penyangkalan dan keraguan itu bertentangan dengan iman ilahi dan katolik. Pengkalan itu dipertahankan dengan teguh dan tak mau berubah walau setelah diadakan refleksi, permenungan, dialong dan usaha berdamai.  Jadi orang baru dikatakan bidaah bila dengan tahu dan sadar melawan inti ajaran iman Kristen.
Kemurtadan adalah penolakan seluruhnya terhadap iman kristen (bukan hanya katolik) yang dilakukan dengan penuh kesadaran, pengetahuan dan kehendak bebas.
Skisma lebih dari sekedar penolakan terhadap kesatuan (komunio). Penolakan itu merupakan penolakan komunio yang teguh dan gigih. Penolakan atas kesatuan itu diuraikan dalam kan 209, 205, misalnya pemilikan Roh Kudus dan hidup berahmat (LG 14, 15, UR 3). Skisma pada umumnya diterapkan oleh Gereja Katolik untuk mereka yang tidak mengakui kepemimpinan Paus sebagai penganti Rasul Petrus.


1.7.        Ajaran-ajaran Paus dan Kolegium Para Uskup 

Kan 752 - Memang bukan persetujuan iman, melainkan ketaatan (obsequium) religius dari budi dan kehendak yang harus diberikan terhadap ajaran yang dinyatakan atau oleh Paus atau oleh Kolegium para Uskup mengenai iman atau moral, bila mereka menjalankan tugas mengajar yang otentik, meskipun tidak bermaksud untuk memaklumkannya secara definitif; maka umat beriman kristiani hendaknya berusaha menghindari hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran itu”.
Ajaran-yang yang dimaskud dalam kanon ini adalah bukan ajaran yang definitif. Ajaran-ajaran tersebut mencakup ensiklik-ensiklik kepausan, surat-surat, dan konstitusi-konstitusi seperti halnya dokumen-dokumen konsili ekumenis. Terhadap ajaran-ajaran tersebut umat kristen harus memberikan kepatuhan religius dari budi dan kehendak. (bdk juga dengan Kan. 748 dan 218).
Kanon lainnya yang hampir sama temanya adalah kan. 753 umat beriman harus memberikan kepatuhan religius terhadap pengajar otentik gereja seperti para uskup baik sendiri, maupun bersama seperti konfrensi wali gereja, dll. Kan 754 menetapkan bahwa umat beriman wajib menepati konstitusi-konstitusi dan dekrit-dekrit yang ditetapkan oleh kuasa gereja yang sah (Paus dan para uskup).

1.8.        Gerakan Ekumenis

Kan 755 § 1.- Seluruh Kolegium para Uskup dan Takhta Apostolik mempunyai tugas utama untuk memajukan dan membimbing gerakan ekumenis di kalangan umat katolik, yang tujuannya ialah pemulihan kesatuan antara semua orang kristiani yang menurut kehendak Kristus harus diperjuangkan oleh Gereja.
 § 2 - Demikian pula para Uskup dan, menurut norma hukum, konferensi para Uskup, wajib memperjuangkan kesatuan tersebut dan, sesuai dengan bermacam-macam kebutuhan atau kesempatan, wajib memberikan norma-norma praktis dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan yang dikeluarkan oleh otoritas tertinggi Gereja.
Karena perbedaan ajaran dari masing-masing anggotanya, Gereja Kristus terpecah. Ini adalah akibat dari macam-macam ajaran dan penafsiran. Tetapi komitmen Gereja Katolik adalah menyatukan kembali Gereja Kristus yang terpecah belah ini. Gereja Katolik mengembangkan gerakan ekumenis agak terlambat, tetapi dilakukan dengan komitmen dan entusiasme. Dekrit tentang ekumenisme dalam Konsili Vatikan II adalah terobosan yang dramatis. Ini adalah tanda gerakan serius Gereja ke arah kesatuan umat Kristen. Kanon ini dilahirkan dari dekrit (UR 4), ini adalah kapsul kanonis dari komitmen Gereja. Kata-kata yang digunakan adalah “memajukan … gerakan ekumenis” dan “mempromosikan…pemulihan kesatuan di antara seluruh umat kristen.” Mengapa demikian? Karena kesatuan itu adalah kehendak Kristus (Yoh 17:21). Gerakan ini harus diwujudkan dalam berbagai kesempatan oleh semua umat beriman kristen, misalnya dalam proyek bersama seperti pekerjaan dari keadilan sosial, amal kasih, membela hak-hak manusia, dan gerakan perdamaian. (lih. Juga Kan 11, 204 – 205, 256 § 1, 364 6, 383 §3, 463 §3, 844 § 2, 933, 1124-1129, 1183 § 3 semuanya dihubungkan dengan ekumenisme).
 DEO GRATIA.........

Kamis, 03 Mei 2012

Pentahbisan Imam Baru

Hari ini 3 Mei 2012, Umat Katolik Paroki St.Pius X Bengkayang patut besyukur karena salah satu putra parokinya ditahbiskan menjadi Imam Kapusin yaitu P. Marselinus Lukman,OFMCap. P. Lukman ditahbiskan menjadi Imam bersama dengan rekannya P. John Wahyudi, OFMCap asal Paroki Salib Suci Ngabang. P. Lukman sapaan akrabnya memilih motto tahbisannya: "Serahkan segala kekuatiranmu pada-Nya, maka ia akan memelihara hidupmu" (1 Ptr 5:7). sedangkan Pastor John memilih motto tahbisannya: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlh kuasa-Ku menjadi sempurna" (2 Kor 12:9). Acara pentahbisan ini diselenggarakan di Gereja Katolik Santa Perawan Maria Tak Bernoda, Pusat Damai di jalan Merdeka, Kecamatan Parindu, Kabupaten Sanggau. Bertindak sebagai pentahbis adalah Yang Mulia Uskup Sanggau  Mgr.Giulio Mencuccini CP. 
P. John Wahyudi OFMCap dan P.Marselinus Lukman  OFMCap

Sebagai putra paroki kelahiran stasi Bare Mada dan juga kegembiraan bersama umat di pusat paroki maka P.Lukman dan P.John akan menyelenggarakan misa perdannya di Pusat Paroki pada; 13 Mei 2012 dan di kampung halaman pada; 20 Mei 2012.
Bertepatan dengan hari yang sama pula Umat Paroki Stella Maris, Siantan Keuskupan Agung Pontianak melaksanakan tahbisan imam asal paroki Stela Maris Siantan, P. Antonius Dedian, MSC. Yang Mulia Uskup Agung Pontianak bertindak sebagai pentahbis. Prificiat kepada ketiga Yubilaris, semoga berkat tahbisan imamat yang telah diterima para pastro dapat bekerja dengan suka cita di ladang Tuhan. Amin

Deo Gratia...

Selasa, 21 Februari 2012

Jumpa Pengurus Umat Se-Dekanat Singkawang

Nyarumkop, 17-19 Februari 2012

Misa Pembukaan Jumpa Pengurus Umat Se-Dekanat Singkawang

Setelah sekian lama tidak berjumpa dalam Dekanat Singkawang kali ini para Pengurus Umat dari 7 Paroki bertemu di Nyarumkop untuk saling berbagi pengalaman dan menimba ilmu terutama dalam liturgi dan kepemimpinan, setidaknya berupa informasi yang menjadi modal bagi para pengurus umat untuk bersama umat di stasi dan kring masing-masing dalam menanggapi sapaaan Allah. Acara ini dimulai dengan Misa pembukaan yang dipimpin oleh Mgr. Hieronimus Bumbun OFM.Cap bersama pastor Dekanat Singkawang.  Kegiatan ini dihadiri 140 orang. Narasumber yang menyampaikan materi diantaranya. Pastor Damian OFM.Cap (Materi Liturgi), Pastor Ambot, OfmCap (Materi Kepemimpinan), Bapak Mahadi (Sosialisasi APP 2012). Proses berjalan sangat  menarik tampak dari banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan peserta kepada narasumber dan banyak kesaksian-kesaksian yang moga-moga dapat saling menguatkan dalam pelayanan.
Pertemuan ini mengundang kesan yang mendalam dalam diri setiap pengurus umat yang ada dalam Dekanat Singkawang. Dalam homilinya Uskup Pontianak menegaskan bahwa kekuatan Gereja ada dalam diri para pengurus umat sebagai ujung tombak. Disisi lain Bapak Uskup juga mengajak agar para pengurus umat mau dan mampu menggerakan OMK (Orang Muda Katolik) di wilayahnya masing-masing untuk melibatkan diri dalam kegiatan menggereja. Pertemuan ini juga sebagai bentuk penegasan hasil Sinode Keuskupan Agung pontianak bahwa Gereja adalah Keluarga, partisipasi kaum Awam menjadikan Gereja lebih mengakar dan bertumbuh dalam hidup umat.
Acara yang berlangsung selama tiga hari ini mengingatkan akan arti pentingnya communio (kebersamaan) sebagai satu kestuan utuh warga Gereja. Meskipun berbeda-beda tetapi tetap satu dalam Iman akan Yesus Kristus sang Gembala Utama. Para Pengurus Umat dipanggil untuk menjadi pelayan jemaat menjadi pengarah dan batu penjuru terhadap kelangsungan warga gereja di tempat mereka masing-masing. Harapan kedepan agar pertemuan ini dapat dilangsungkan lagi untuk periode berikutnya. Amin.

Suasana Misa Pembukaan

Foto bersama Mgr. Hieronymus Bumbun, OFMCAp dan sebagian pengurus  umat  Paroki St.Maria Nyarumkop

Foto bersama Uskup, Pastor dan Pengurus Kring Paroki St.Pius X Bengkayang




Rabu, 01 Februari 2012

RENOVASI GEREJA PAROKI BENGKAYANG 2011

Paroki Bengkayang saat ini memasuki usianya yang ke 77 tahun sejak di dirikan 1 September

Kamis, 24 November 2011

PR0FIL SEKRETARIS PAROKI BENGKAYANG

BERKARYA DI PAROKI DAN BERPRESTASI DI PERTANIAN

Menjadi Sekretaris Paroki mungkin tak pernah terbayangkan oleh sosok pribadi yang bernama lengkap Kristianus Kaut. Beliau lahir di Manggarai Barat, Nggola, 20 Maret 1974. Menjadi Sekretaris Paroki Bengkayang pada tanggal 4 November 2000. Tidak terasa sudah 11 tahun telah menjadi Sekretaris Paroki dengan segala suka-dukanya. Tugas yang dijalaninya dengan penuh syukur dan gembira ini telah menghantar Kristianus (Anus panggilan akrabnya) menjadi pribadi yang ramah dalam melayani setiap umat yang datang untuk berusuran di paroki. Banyak tugas yang selalu menantinya setiap hari di kantor paroki. Sebagai Sekretaris Paroki banyak juga tantangan yang mesti di hadapinya terutama bila ada umat yang datang ke paroki dalam mengurus surat babtis atau keluarga. Tantangan terbesar adalah apabila melayani kartu babtis, kebanyakan terjadi keluarga-keluarga jarang sekali mengarsipkan data babtis dirinya dan keluarganya sendiri sehingga ketika perlu harus bersusah payah mencari datanya di L.B (Liber Babtizminorum) bahkan kerap terjadi nama babtis dan nama panggilan berubah ketika sang anak memasuki bangku sekolah atau di Akta Kelahiran.
Bekerja seorang diri di kantor paroki tentu kerab membuat Anus kesepian atau bahkan kerepotan tetapi tidak menyurutkan niatnya memberikan yang terbaik bagi umat di Paroki Bengkayang. Dengan waktu kerja di Kantor Paroki yang buka jam 08.30 - 12.30 WIB,setelah dari kantor paroki beliau melanjutkan kerja dikebun atau sawah. Memanfaatkan waktu yang ada Bapak tiga orang anak ini terbilang sebagai Petani Berprestasi di Kabupaten Bengkayang. Berbekal pendidikannya di SPP Pertanian Ruteng-Manggarai, Flores.

Rabu, 23 November 2011

ASRAMA PASTORAN SANTO YOHANES CHRISOSTOMUS BENGKAYANG

Asrama yang berada dikompleks Pastoran Santo Pius X Bengkayang ini biasa disebut sebagai Asrama Putera Pastoran, yang juga sekaligus membedakannya dengan asrama-asrama lain yang ada di wilayah Kota Bengkayang, seperti Asrama Puteri Susteran, Asrama Bukit Sion, Asrama Kana, Asrama Manunggal, dan lain sebagainya. Asrama ini diperuntukkan bagi siswa putera yang akan belajar di Kota Bengkayang, setingkat SMA/SMK. Dan lebih dikhususkan lagi bagi mereka yang berasal dari wilayah pedalaman Kabupaten Bengkayang.
Asrama ini didirikan oleh Pastor-Pastor Misionaris Kapusin Provinsi Belanda [Netherlands] yang berkarya di Paroki St. Pius X Bengkayang beberapa puluh tahun yang lalu (1934 - 1990). Ciri khasnya adalah Pendidikan dan Pembinaan yang berjiwa atau berspiritualitaskan Iman Katolik [Kesaksian]. Pertama-tama memang hanya diperuntukkan khusus bagi para pelajar yang berada di wilayah Paroki St. Pius X Bengkayang. Namun, dalam perkembangannya kemudian, menerima pula para pelajar dari luar Paroki St. Pius X Bengkayang seperti sekarang terjadi ada beberapa pelajar yang berasal dari wilayah Paroki St. Agustinus dan Mattias Darit, Paroki Kristus Raja Sambas, Paroki St. Petrus dan Paulus Menjalin, Paroki St. Yosef Samalantan serta Paroki St. Petrus Sanggau Ledo.
Asrama ditangani langsung oleh beberapa Pembina, dengan diketuai oleh salah seorang Pastor yang ditunjuk oleh atau penerima mandat dari Pastor Kepala Paroki. Dan dalam penanganannya, para pembina inilah yang bertanggung-jawab mengelola asrama Pastoran dengan sebaik-baiknya, dengan tetap menjalin kerjasama yang baik dengan orang-tua para penghuni, pihak sekolah serta lingkungan di sekitar asrama, dan terlebih Pastor-Pastor yang bertugas di Paroki Santo Pius X Bengkayang.
Kemudian untuk menjaga serta mengatur tertib hidup para penghuninya, dibuatlah peraturan dan tata-tertib yang berlaku untuk semua penghuni asrama, dengan tetap menghargai kebebasan dan niat baik para penghuninya dalam berbuat dan berperilaku baik. Peraturan ini berlaku untuk semua. Poin penting yang menjadi prioritas utama bagi penghuni Asrama Pastoran adalah agar mereka dapat belajar dengan baik, bertanggung-jawab, berakhlak serta beriman yang teguh selama mereka menyelesaikan studi-nya dengan tinggal di asrama.---Vivat Crescat et Floreat [Lahir Hidup dan Berbuah]---.

Alamat Lengkap: Asrama Putera Pastoran "St. Yohanes Chrisostomus" Bengkayang
Jl. Gereja Katolik 04 BENGKAYANG 79211 Kalbar, Indonesia
Telp. 0561-441147

Kompleks Asrama Pastoran Bengkayang


Asrama yang dulunya digunakan untuk penghuni Asrama Puteri

Asrama Tempo Doeloe terhubung dengan Gereja Lama

Para Pembina Sekarang:

Bapak Kristianus Upang (Asal Simpang Tiga)--- Mulai jadi Pembina Juli 2011 - ...
Pastor Markus Soje, Pr --- Mulai jadi Pembina Juli 2009 --- ...

Penghuni Asrama Pastoran
Sebagian Penghuni Asrama Pastoran sedang Belajar

Renovasi Gereja St.Pius X Bengkayang

PROFIL GEREJA DAN PERKEMBANGANNYA

Sejak di dirikan tanggal 1 September 1934, Paroki Bengkayang telah berkembang sedemikian pesat dari awal mula umat sedikit menjadi semakin bertambah. Demikian juga rumah Ibdah (Gereja). Sejak berdiri Gereja paroki saat ini sudah empat kali perubahan. Gereja Pertama di beri nama St.Yosef kemudian di renovasi pada tahun 1975 dan di beri nama baru St.Pius X.


setelah dipergunakan selama hampir 13 tahun maka melihat pertumbuhan dan perkembangan umat dibangunlah sebuah bangunan Gereja baru letaknya di sebidang tanh kosong di samping pastoran. Gereja ini di bangun pada takhir tahun 1988 selesai pada tahun 1990.

setelah kurang lebih 11 tahun dipergunakan nampak bahwa umat semakin banyak memenuhi gereja setaip minggu meskipun misa diadakan sbanyak 3 kali. oleh karena itu diputuskan untuk membangun dan memperluas lokasi gereja yang sudah ada. perluasan tersebut di mulai pada awal Juli 2011.
Gereja sebelum di pugar


Pemugaran


Ketua Pembangunan Gereja Bpk Y.Jolong, Bpk.Ismael (Kepala Tukang) dan Bpk.Daniel

kepala tukang dari pertukangan St.Yusuf pontianak Bpk. Ismail Lianto asal Pontianak


maket Gereja yang baru

Komuni Pertama di Paroki Bengkayang

Setelah masa persiapan yang matang untuk pertama kalinya anak-anak kelas 5 dan 6 SD menyambut sakramen Komuni dalam perayaan EWkaristi yang diselenggarakan dipusat paroki pada 20 November 2011. Sekitar 100an anak telah berbaris rapi dalam busana putih dan dibalut celana hitam untuk anak laki-laki berarak memasuki gereja. Misa yang dipimpin Pastor Herbertus Hermes Abet, Pr ini berlangsung semarak. Di iringi Koor St.Pius semakin menegaskan perayaan ini menjadi tanda sukacita bagi anak-anak yang akan menyambut Tubuh Tuhan dalam hidup mereka. Para Orang Tua tak kalah suka citanya menyaksikan putra-putri mereka melangkah pasti memasuki hidup baru dalam Tuhan.
Komuni pertama ini dapat terselenggara berkat peran serta para Guru Agama yang mau memberikan diri mereka demi mengajar anak-anak ini sehingga bisa menerima komuni untuk pertama kalinya.

Selasa, 23 Agustus 2011

Catatan Perjalanan: Penerimaan Sakramen Krisma di Paroki Bengkayang

Suka cita besar dirasakan umat katolik Paroki St.Pius X Bengkayang. Uskup Agung Pontianak, Mgr. Hieronymus Bumbun,OFM.Cap, berkenan menerimakan sakramen krisma pada tanggal 8 – 14 Agustus 2011. Sakramen krisma dilaksanakan ditujuh tempat dalam wilayah paroki Bengkayang. Sakramen krisma adalah bagian dari 3 sakramen inisiasi. Inisiasi artinya memasukan orang dalam gereja. Setiap umat katolik wajib untuk menerima sakramen inisiasi yaitu Baptis, Ekaristi dan Krisma. Melalui sakreman krisma diharapkan umat yang menerimanya dapat bertumbuh dalam iman serta menjadi dewasa. Dalam rangka inilah uskup hadir melaksanakan penerimaan sakramen krisma.
            Hari pertama krisma dilaksanakan di Stasi Dapan (8 agustus). Uskup bersama P.Herebertus Hermes Abet,Pr dan rombongan Koor dari Bengkayang menuju Ledo kemudian dilanjutkan dengan menumpang perahu menuju stasi Dapan. Dari Steigher Dapan uskup ditandu menuju kampung yang jaraknya 1,2 Km. Di awal kampung uskup dan rombongan disambut oleh 7 kali tembakan senapang lantak, kemudian disambut tarian penyambutan, pemotongan bambu muda serta penaburan beras kuning. Uskup diarak menuju rumah ketua umat dengan menginjak bidai selamat datang dan berisitirahat sejenak sebelum misa krisma dimulai. Misa dimulai pukul 09.00. Umat katolik Dapan dan sekitarnya di aliran Sungai Dapan baru kali ini melihat dan bertemu langsung dengan uskupnya dan menginjakkan kaki di  kampung Dapan. Dapan dijadikan pusat menerima krisma dengan 5 kampung di sekitarnya bergabung di sana. Umat yang menerima sakramen krisma berjumlah 144 orang.
Hari kedua, 9 Agustus 2011, penerimaan sakramen krisma dilaksanakan di Stasi Sungai Betung sebagai pusat dengan melingkupi 2 stasi yaitu Stasi Sungai Betung dengan 11 kampung dan Stasi Ketiat dengan 5 kampung. Umat mengarak Uskup di awal kampung yaitu di Puskesmas Sungai Betung. Perarakan diawali Drum Band SD Amkur, barisan penerima krisma, kemudian uskup dengan menaiki mobil, kemudian seluruh umat menuju gereja. Untuk pertama kalinya uskup kita menginjakkan kakinya di stasi ini. Misa dimulai pukul 09.30. Dalam misa ini umat yang menerima sakramen krisma berjumlah 122 orang sekaligus uskup juga memberkati gereja St. Thomas setelah gedung gereja direnovasi.
Hari ketiga, 10 Agustus 2011, penerimaan sakramen krisma dilaksanakan di Stasi Ledo. Misa dimulai pukul 17.00. Uskup beserta rombongan disambut di gerbang gereja dengan tarian kemudian misa pun dimulai. Di Stasi Ledo sebagai pusat melingkupi 7 kampung telah menerima krisma sebanyak 103 orang. Dalam khotbahnya uskup menyatakan Ledo dapat menjadi Paroki baru asalkan umat dapat menyiapkan diri dengan segala kelengkapan untuk menjadi paroki. Penambahan tenaga imam mendesak untuk memenuhi kebutuhan keuskupan. Umat wilayah Ledo bersukacita ketika uskup mengatakan hal tersebut.
Hari keempat, 11 Agustus 2011, penerimaan sakramen krisma dilaksanakan di Stasi Peranuk. Misa dimulai pikul 17.00. Penerima krisma dari Stasi Peranuk dengan 5 kampung sekitarnya berjumlah 143 orang. Peranuk adalah stasi awal yang terbetuk sejak paroki Bengkayang didirikan 1 September 1934. Umat yang hadir termasuk yang menerima sakramen krisma merasakan kebahagiaan dan suka cita karena uskup berkenan hadir.
Hari kelima, 12 Agustus 2011, sakramen krisma diterimakan di Stasi Sejadis. Sejadis merupakan wilayah transmigrasi. Uskup datang untuk kali kedua di stasi tersebut sejak gereja mereka diresmikan pada tahun 2002. Misa di mulai pikul 09.00. Penerimaan sakramen krisma di Sejadis melingkupi 3 kampung disekitarnya berjumlah 64 orang.
Hari keenam, 13 Agustus 2011, sakramen krisma diterimakan di Stasi Sekaruh. Misa di mulai pukul 09.00. Sekaruh adalah stasi yang terbetuk pada tahun 1935. Uskup disambut di gerbang gereja dengan tarian penyambutan dan langsung mulai misa ketika masuk gereja. Umat yang menerima sakramen krisma berjumlah 176 orang.
Hari ketujuh, 14 Agustus 2011, sakramen krisma diterimakan dipusat paroki. Misa di mulai jam 09.00. Hari terakhir penerimaan krisma di paroki Bengkayang. Peserta krisma di Bengkayang berjumlah 544 orang yang berasal dari pusat paroki serta stasi sekitar yaitu: Tampe Atas, Malosa, Lumar, Bare Lamat, Trans Rangkang dan Sayung. Di pusat paroki umat yang hadir memenuhi dalam gereja sampai luar gereja, bahkan dalam gereja hanya di isi oleh peserta krisma. Dalam misa meriah ini dihadiri juga oleh Drs. Yakobus Luna,M.Si dan juga ketua DPR Bengkayang Darwis. Setelah misa seluruh peserta krisma dan undangan santap siang bersama di aula paroki.
            Dalam sambutannya ketua DPP paroki Bengkayang menyatakan: berterima kasih atas kesediaan Uskup untuk berkenan menerimakan sakramen krisma bagi segenap umat katolik di wilayah paroki bengkayang mulai tanggal 8-14 Agustus 2011. Terima kasih yang tak terhingga pula bagi para pengurus umat beserta panitia di stasi-stasi yang menjadi penyelenggara sehingga para krismawan-krismawati telah menerima pengurapan dari Uskup kita. Total penerima sakramen krisma mulai tanggal 8-14 agustus 2011 di paroki Bengkayang berjumlah 1.296 orang. Deo Gratia.

Perarakan Misa Kirsma di Ledo 10 Agustus 2011

Gerbang Gereja Sejadis, Misa Krisma  12 Agustus 2011

Uskup di arak menuju Gereja St. Thomas Sungai Betung 9 Agustus 2011
























Minggu, 24 Juli 2011

Gereja Bengkayang dari jaman ke jaman

Gereja St.Pius X Bengkayang 2011

Gereja St.Pius X Bengkayang 1999

Pastoran Bengkayang 1999

Gereja St. Yosef - St.Pius X Bengkayang 1976

Gereja St. Yosef Bengkaang 1975 belum di pugaar







Senin, 13 Juni 2011

SEKAMI Paroki St.Pius X Bengkayang


SEKAMI St Pius X Bengkayang

SEKAMI :  Serikat Kepausan Anak-Remaja Misioner Indonesia
Berdiri pada 28 Juli 2008
Anggota :  89 orang
Animator :  6 orang
Pembina : 3 orang
Moderator  :  1 orang 
Doa dan Pertemuan setiap minggu setelah misa ke dua di Sekretariat SEKAMI Paroki St.Pius X Bengkayang

Sekami adalah sebuah wadah berhimpun Anak-Remaja Katolik diseluruh dunia untuk membangun iman dalam Yesus Kristus. Panggilan untuk menjadi Misionaris adalah panggilan setiap umat kristen. Semangat Misioner adalah semangat untuk mewartakan kabar gembira kepada semua bangsa. Panggilan menjadi Misioner dapat dipupuk mulai dari usia dini. Maka Gereja Katolik mengajak Anak-Remaja untuk bergabung dan masuk dalam Sebuah Serikat yang mengusung Motto Children Helping Children (Anak Menolong Anak) dan Misinya Doa, Derma, Kurban, Kesaksian. 
Di Bengkayang sendiri SEKAMI baru terbentuk tiga tahun. Dengan semangat yang teguh SEKAMI Bengkayang dari hari kehari berusaha untuk mewujudkan jati diri yang utuh melalui kegiatan Doa, Derma,Kurban dan Kesaksian. Aplikasi hidup untuk menghayati ke 4 (empat) misi ini di galakan dalam keseharin misalnya dalam Doa harian atau Doa bersama, dalam Derma yaitu menyisihkan uang saku untuk di berikan bagi teman yang kurang mampu, melalui Kurban yaitu dengan hadir dan memberi diri dalam setiap pertemuan, doa, dan kebersamaan, melalui Kesaksian yaitu membaktikan diri dalam pelayanan sebagai Misdinar. Meskipun sederhana bentuk pemberian diri inilah yang diharapkan dapat memupuk semangat Anak-Remaja Katolik terlibat aktif dalam kegiatan menggereja sejak usia diri. Karena prinsip yang di usung adalah setiap orang yang dibaptis adalah warga gereja entah itu masih bayi, anak-remaja, dewasa bahkan sekaligus sebagao orangtua mempunyai arti dan makna yang mendalam dalam kehidupan untuk mengembangkan dan memajukan gereja. Maka, siapakah itu Gereja? Yaitu semua umat beriman yang telah menerima Sakramen Pembaptisan tidak memandang usia, pangkat dan jabatan. Anak-Remaja pun mempunyai peran sentral dalam kemajuan Gereja, tentunya sesuai dengan tingkat usianya untuk dapat terlibat aktif. Jadi Anak-Remaja adalah gereja itu sendiri. Merekalah juga sebagai penentu untuk masa depan gereja. Karya misionaris (Pewartaan Kabar Gembira) tidak hanya ditafsirkan sebagai sebuah aksi disebuah medan yang asing, jauh atau kurang dikenal justru karya misionaris itu dapat dilakukan di tempat dimana kita lahir, berada dan meng-ada. Hidup SEKAMI Bengkayang. Deo Gratia.

Minggu, 12 Juni 2011

Jadwal Misa Gereja Paroki St.Pius X Bengkayang


Jadwal Misa Gereja Paroki St.Pius X Bengkayang

  • Minggu    : Misa 3 Kali
                         Misa Pertama Jam 06.30 WIB
                         Misa Kedua    Jam  08.30 WIB
                         Misa Ketiga    Jam   17.30 WIB
  • Selasa     : Misa Malam   Jam   18.30 WIB
  • Rabu       : Misa Pagi       Jam   05.30 WIB
  • Kamis     : Misa Pagi       Jam   05.30 WIB
  • Jumat     : Misa Malam   Jam   18.30 WIB

Kaweh Adup Ano Sambayang Ka' Gareja
Da Dama, Sama'- Sino', Sama' Angot - Sino' Angot, Saka' - Sade', Kangot 
Ite Badoa Ka' Nyabata Yesus Karistus.
Deo Gratia